Saya lahir di Sumatera Barat, besar dan bersekolah di Jakarta namun menghabiskan masa SMA di Sumatera Barat. Maka tak heran jika saya akrab dengan berbagai bencana, baik gempa, banjir, kerusuhan, hingga bencana finansial.
Salah satu bencana terbesar yang pernah saya alami adalah ketika gempa besar melanda Sumatera Barat tanggal 30 September 2009. Gempa tersebut merupakan gempa tektonik berkekuatan 7.6 SR dengan pusat gempa di lepas pantai barat laut kota Padang.
Ketika itu gempa terjadi sangat cepat dan menyebabkan kerusakan cukup parah dirumah saya. Bodohnya, ketika itu saya dan keluarga tidak punya skill dan pengetahuan menghadapi gempa. Satu-satunya hal yang terlintas dalam pikiran kami adalah lari keluar rumah secepatnya. Dapur terbakar karena kompor tak sempat dimatikan ketika kami lari. Pagar rumah ambruk akibat konstruksi yang asal-asalan. Untungnya, gempa berhenti cukup cepat sehingga kami sempat memadamkan api di dapur.
We had no idea what to do. Apakah kami harus tidur didalam rumah atau diluar rumah? Dimanakah pusat gempa sebenarnya? Apakah saudara-saudara kami ditempat lain selamat? haruskah kami pergi kerumah saudara terdekat atau menetap dirumah?
Ketika itu TV kami rusak sehingga kami tidak dapat mengetahui informasi gempa. Tidak ada alat komunikasi yang bisa kami gunakan, semua sinyal handphone terputus, listrik pun padam. Untuk sekedar kekamar mandi pun kami takut, karena tau konstruksi dinding kamar mandi kami rapuh dan dapat runtuh sewaktu-waktu.
Untungnya, diantara warga sekitar, ada yang mengetahui informasi gempa melalui siaran radio. Melalui radio itulah kami dapat mengetahui informasi gempa terkini.
Selama kurang lebih 3 hari, aktifitas ekonomi lumpuh, sekolah diliburkan, tidak ada alat transportasi massal yang beroperasi. Syukurlah saat itu kami memiliki warung kelontong. Kebutuhan dapur kami dapat terpenuhi dari persediaan yang ada diwarung. Untung pula kami memiliki persediaan lilin yang cukup banyak sehingga tak perlu khawatir akan padamnya listrik. Rumah kami pun semi permanen, hanya bagian dapur dan kamar mandi yang dibuat dari cor semen, sedangkan yang lainnya terbuat dari kayu. Sehingga tidak terjadi kerusakan yang cukup parah dirumah.
Dari peristiwa itu saya belajar satu hal. We need to prepare. Baik itu persiapan fisik, mental, pengetahuan, dan juga perlengkapan. Beberapa hal yang saya pelajari dari kejadian itu
1. Ketika gempa berlangsung harusnya yang dilakukan bukanlah lari keluar rumah, namun berlindung dibawah benda yang kuat seperti meja.
2. Ketika berlari keluar rumah, lindungi kepala dan berjalan menunduk.
3. Konstruksi rumah juga harus diperhatikan ketika tahu bahwa kita tinggal didaerah rawan gempa.
4. Shelter, makanan, alat komunikasi, air minum, obat-obatan, alat penerangan merupakan perlengkapan yang harus selalu ada didalam rumah.
5. Semua anggota keluarga harus mengetahui cara menghadapi gempa
6. Berdoa
Itulah sedikit pengalaman survival saya. Untuk mengetahui lebih lanjut cara menghadapi gempa, dan perlengkapan apa saja yang harus dipersiapkan dalam menghadapi bencana, tunggu postingan saya berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar