Minggu, 10 April 2016

My Survival Story 1

Saya lahir di Sumatera Barat, besar dan bersekolah di Jakarta namun menghabiskan masa SMA di Sumatera Barat. Maka tak heran jika saya akrab dengan berbagai bencana, baik gempa, banjir, kerusuhan, hingga bencana finansial. 

Salah satu bencana terbesar yang pernah saya alami adalah ketika gempa besar melanda Sumatera Barat tanggal 30 September 2009. Gempa tersebut merupakan gempa tektonik berkekuatan 7.6 SR dengan pusat gempa di lepas pantai barat laut kota Padang. 
Ketika itu gempa terjadi sangat cepat dan menyebabkan kerusakan cukup parah dirumah saya. Bodohnya, ketika itu saya dan keluarga tidak punya skill dan pengetahuan menghadapi gempa. Satu-satunya hal yang terlintas dalam pikiran kami adalah lari keluar rumah secepatnya. Dapur terbakar karena kompor tak sempat dimatikan ketika kami lari. Pagar rumah ambruk akibat konstruksi yang asal-asalan. Untungnya, gempa berhenti cukup cepat sehingga kami sempat memadamkan api di dapur. 

We had no idea what to do. Apakah kami harus tidur didalam rumah atau diluar rumah? Dimanakah pusat gempa sebenarnya? Apakah saudara-saudara kami ditempat lain selamat? haruskah kami pergi kerumah saudara terdekat atau menetap dirumah? 
Ketika itu TV kami rusak sehingga kami tidak dapat mengetahui informasi gempa. Tidak ada alat komunikasi yang bisa kami gunakan, semua sinyal handphone terputus, listrik pun padam. Untuk sekedar kekamar mandi pun kami takut, karena tau konstruksi dinding kamar mandi kami rapuh dan dapat runtuh sewaktu-waktu. 
Untungnya, diantara warga sekitar, ada yang mengetahui informasi gempa melalui siaran radio. Melalui radio itulah kami dapat mengetahui informasi gempa terkini. 

Selama kurang lebih 3 hari, aktifitas ekonomi lumpuh, sekolah diliburkan, tidak ada alat transportasi massal yang beroperasi. Syukurlah saat itu kami memiliki warung kelontong. Kebutuhan dapur kami dapat terpenuhi dari persediaan yang ada diwarung. Untung pula kami memiliki persediaan lilin yang cukup banyak sehingga tak perlu khawatir akan padamnya listrik. Rumah kami pun semi permanen, hanya bagian dapur dan kamar mandi yang dibuat dari cor semen, sedangkan yang lainnya terbuat dari kayu. Sehingga tidak terjadi kerusakan yang cukup parah dirumah. 

Dari peristiwa itu saya belajar satu hal. We need to prepare. Baik itu persiapan fisik, mental, pengetahuan, dan juga perlengkapan. Beberapa hal yang saya pelajari dari kejadian itu
1. Ketika gempa berlangsung harusnya yang dilakukan bukanlah lari keluar rumah, namun berlindung dibawah benda yang kuat seperti meja. 
2. Ketika berlari keluar rumah, lindungi kepala dan berjalan menunduk. 
3. Konstruksi rumah juga harus diperhatikan ketika tahu bahwa kita tinggal didaerah rawan gempa. 
4. Shelter, makanan, alat komunikasi, air minum, obat-obatan, alat penerangan merupakan perlengkapan yang harus selalu ada didalam rumah.
5. Semua anggota keluarga harus mengetahui cara menghadapi gempa 
6. Berdoa 

Itulah sedikit pengalaman survival saya. Untuk mengetahui lebih lanjut cara menghadapi gempa, dan perlengkapan apa saja yang harus dipersiapkan dalam menghadapi bencana, tunggu postingan saya berikutnya. 

Indonesia Rawan Bencana

Seperti banyak orang ketahui, Indonesia adalah negara yang sangat rawan bencana baik bencana alam (natural disaster) ataupun bencana akibat ulah manusia (man-made disaster). Salah satu bencana alam yang paling besar yang pernah terjadi adalah Tsunami Aceh tahun 2004. Selain itu ada banyak lagi musibah bencana yang lain mulai dari gempa bumi, longsor, banjir,dll. Berikut beberapa daftar bencana yang pernah terjadi di Indonesia. 

13 Februari 2004: Gunung Kelud Meletus di Jawa Timur 
Januari 2014: Gunung Sinabung meletus di Sumatera Utara 
2 Juli 2013: Gempa bumi 6,2 SR di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah 
26 Oktober 2010: Gunung Merapi meletus di Jawa Tengah 
25 Oktober 2010 : Gempa 7.7 SR di Sumatera Barat 
4 Oktober 2010 : Banjir di Wasior Papua Barat 
30 September 2011: Gempa bumi Padang 
1 Februari 2007 : Banjir besar Jakarta 
1 Januari 2007 : Kecelakaan pesawat Adam Air, seluruh penumpang dan awak tewas
27 Mei 2006 : Gempa bumi Yogyakarta 
28 Desember 2014 : Kecelakaan pesawat Air Asia 
10 Oktober 1996: Kerusuhan Sitobondo di Jawa Timur 
dll 

Tingginya potensi bencana di Indonesia disebabkan oleh beberapa fakor seperti faktor geografis, demografi, topografi, faktor sosial ekonomi, dll. Secara geografis Indonesia terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, hal ini menyebabkan Indonesia rawan terjadi gempa tektonik. Selain itu Indonesia juga memiliki banyak gunung berapi aktif yang siap meletus sewaktu-waktu. Indonesia juga diapit oleh samudera hindia, samudera pasifik, serta laut cina selatan, yang mengakibatkan besarnya potensi tsunami di Indonesia. 
Selain gempa, gunung meletus dan tsunami. Indonesia juga memiliki potensi bencana kekeringan, tanah longsor, dan kebakaran hutan karena adanya musim hujan dan kemarau yang cukup ekstrim. 

Indonesia juga merupakan negara heterogen dengan keragaman demografi yang tinggi. Terdapat banyak ras, etnis, suku, dan agama yang berbeda di Indonesia. Keragaman ini seringkali menimbulkan konflik yang tidak berkesudahan. Gap/Kesenjangan ekonomi pun cukup besar di Indonesia, menyebabkan penduduk sangat sensitif terhadap isu ekonomi dan politik yang juga seringkali memicu konflik. Kriminalitas pun cukup tinggi di Indonesia akibat faktor kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan warga. 

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? 
Tentunya kita tidak dapat mengubah fakta geografis Indonesia maupun merubah kondisi demografis. Yang dapat dilakukan adalah berusaha hidup dalam harmoni dan mempersiapkan diri menghadapi bencana untuk mengurangi resiko kerugian. 
Oleh sebab itulah blog ini hadir untuk memberikan pengetahuan lebih lanjut dalam menghadapi bencana serta persiapan yang harus dilakukan sebelum bencana itu datang.